Saranghamnida Oppa
Aku memandangi
bayangan diriku di cermin. Pantulan diriku yang terbalut Hanbok dengan warna
atasan putih dan roknya yang berwarna merah muda. Tali Hanbok-ku berwarna hitam
dipermanis dengan rajutan bergambar bunga dari benang warna putih. Aku
mengepang rambutku yang sepanjang pinggang dan menambahkan jepitan rambut
berbentuk pita berwarna putih. Seharusnya aku tak boleh memakai itu, karena di
Korea hal itu melambangkan keluarga yang berkabung. Tapi menurutku itu hanya mitos
dan aku tetap memakainya. Lagi pula hari ini adalah hari yang paling bahagia jadi
tidak mungkin ada hal yang menyedihkan. Malam pesta dansa akhir tahun. Aku
sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memikirkan kegagalanku dalam
ujian pertahanan diri minggu kemarin. Hari itu benar-benar membuatku down karena aku tidak bisa lolos ujian,
aku tidak bisa membunuh monster yang sudah dijinakkan. Aku berpikir kalau aku
tidak cocok dengan senjataku itu, bilah terkutuk. Tapi, aku sudah terlanjur
berjanji kepada semua sahabatku kalau aku tidak akan menangis lagi karena gagal
dalam ujian.
“Kau sudah sangat
cantik Jang Jun-In, percayalah padaku.” Aku mendengar seseorang berkata
kepadaku dari arah luar kamar asramaku di Nawizard School. Nakamura Keiko.
Seorang gadis cantik asal Jepang yang mengenakan gaun berwarna ungu tua yang
glamor dan dipermanis dengan tas tangan yang sangat serasi untuknya. Rambutnya
yang hitam disanggul sederhana itu mempercantik penampilannya malam ini. Dia
tersenyum kearahku sambil terus berjalan memasuki kamar kami.
“Yap, aku tahu itu
Keiko’ah1.” Aku menanggapi ucapannya, lalu tersenyum lebar
kearahnya. Aku menarik lengannya dengan lembut dan berjalan kearah luar untuk
pergi ke aula besar. Hari ini adalah hari di mana aku dan Keiko untuk pertama
kalinya pergi ke pesta dengan pasangan kami. Keiko akan pergi dengan Alex Cave,
sahabat kami yang berdarah Eropa. Keiko sendiri sudah sangat menyukainya
semenjak mereka bertemu di pembagian kamar asrama. Dan aku sendiri akan pergi
bersama Kazuto, sahabatku yang lain yang sudah sangat ku sukai sejak aku tahu
kalau ia memiliki banyak kesamaan dengan ku. Nakamura Kazuto, ia berasal dari
sebuah panti asuhan yang sama dengan Keiko. Panti asuhan Nakamura di pinggiran
kota Kyoto. Mereka ditemukan memiliki darah penyihir ketika mereka berusia 12
tahun oleh kepala sekolah kami. Tepatnya 4 tahun lalu, saat tahun ajaran baru
di Nawizard School dimulai.
1.Tambahan
“ah” biasa diucapakan untuk memanggil seseorang yang sudah dikenal akrap
atau untuk memanggil sahabat. Jika seseorang sudah memanggil dengan
tambahan “ah” setelah nama, berarti ia sudah menganggapnya sebagai teman.
|
|
Aku
dan Keiko memutuskan untuk bertemu Kazuto, Alex dan Ryan di aula besar, karena
kami takut akan terlalu lama berdandan dan mempersiapkan diri kami. Ryan Bonas
akan pergi bersama Charol Jasleen. Ryan adalah seorang sahabatku asal Amerika
dan Charol sendiri asal Afrika. Gosip yang beredar adalah Ryan menyukaiku sejak
kami masih kecil, tapi setiap aku tanya padanya ia tidak pernah mengakuinya.
Aku pun tidak terlalu memperdulikannya, karena aku sudah sangat menyukai
Kazuto. Dan kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Bukan sebuah
hubungan seperti sepasang kekasih memang. Tapi sudah satu tahun ini Kazuto
memintaku untuk memanggilnya “oppa2”. Sebuah kata sederhana namun
bermakna untukku. Dan aku menganggapnya sebagai sebuah tanda kalau ia juga
menyukaiku.
“Jun-In’chan3!”
Kazuto menyapaku saat aku dan Keiko mulai memilih makanan pembuka, “Kau sangat cantik mengenakan Hanbok itu
Jun-In’chan.”
“Gomawo oppa.4”
Aku hanya bisa menjawab itu sambil tersenyum malu.
Ketika Kazuto, Ryan,
dan Alex sudah datang dan berdiri di dekat kami, kami hanya saling tersenyum.
Jujur saja, aku sangat malu pada Kazuto. Kazuto datang dengan setelan jas
berwarna kelabu, ia juga membawa setangkai mawar putih untukku. Mawar itu lalu
ia selipkan di ujung rambutku yang terkepang. Diam-diam aku takut kalau dia
tidak akan mengajakku berdansa malam ini, karena aku tahu ia sangat jarang
menunjukan perhatiannya di depan umum. Dan Alex-lah yang mengajak Keiko
berdansa pertama kali. Mereka pergi kelantai dansa dengan sangat serasi.
Sementara kami masih mengobrol sambil memakan beberapa kue yang dihidangkan
pihak sekolah untuk para murid. Setelah menenggak satu gelas minuman bersoda,
Ryan mengajak Charol berdansa menyusul Alex dan Keiko. Suasana canggung mulai
terasa diantara aku dan Kazuto. Namun akhirnya, ia mengajakku untuk berdansa
juga. Ia membuatku merasa sangat gugup.
Kami berjalan sambil
bergandengan tangan kearah lantai dansa. Tangannya mengalirkan rasa dingin
keseluruh tubuhku. Membuatku merasa nyaman dan aman berada didekatnya. Sensasi
dingin yang berbeda dari semua sensasi dingin yang pernah ku rasakan. Itu
sungguh membuatku bahagia, benar-benar bahagia. Ia meletakan tangannya yang
bebas ke pinggangku dan ia mulai mendekapku dalam alunan melodi indah yang
berasal dari piano dan biola. Aku memejamkan kedua mataku. Menikmati setiap
detik yang berlalu diantara kami. Aku juga semakin erat memeluk Kazuto,
berharap dialah yang akan menjadi jodohku kelak, karena aku sangat mencintainya.
Alunan melodi indah itu seakan membuatku semakin hanyut dalam kenyamanan
tubuhnya dan semakin membuatku tidak ingin berpisah dengannya. Aku harus
bertanya apakah ia benar-benar menyukaiku atau hanya mempermainkanku. Karena
jika ia hanya mempermainkanku, semua ini tak lebih dari pada cara untuk
menyakiti hatiku dengan amat kejam.
“Oppa…” aku
benar-benar gugup untuk bertanya, tapi aku bulatkan tekatku dan melanjutkan
pertanyaanku. “Oppa, apakah kau benar-benar menyukaiku? Maksudku, apa kau
benar-benar menyayangiku dengan sepenuh hatimu?”
2. Kakak
laki-laki dalam bahasa Korea.
3. “Chan”
diucapkan untuk memanggil perempuan atau anak kecil dalam bahasa Jepang,
biasanya untuk yang sudah dekat.
4. Terima kasih
kakak dalam bahasa Korea.
|
|
“Tentu
saja aku menyukaimu.” Jawabnya dengan senyuman yang membuatku merasa melambung
ke awan. Aku merasakan dadaku penuh dengan semua kata-kata manis yang ada
dikosakata dalam bahasa apa pun. Aku merasakan luapan emosi yang membuatku
ingin selalu tersenyum. Tidak ada yang dapat melukiskan perasaanku saat ini.
Ini sungguh membuatku tidak ingin berpisah dengannya. Lalu ia mulai melanjutkan
kata-katanya untuk mempertegas semuanya. “Aku sangat menyukai, menyayangi dan
mencintaimu Jang Jun-In. Aishiteru Jun-In’chan5. Aku mencintaimu
sepenuh hati dan dengan seluruh hidupku.”
“Benarkah?” aku
benar-benar tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya. Sepersekian detik
aku pikir aku salah dengar. Tapi melihatnya tersenyum cerah, membuatku yakin
sepenuhnya kalau dia benar-benar berkata jujur dari lubuk hatinya yang paling
dalam. “Aku juga menyukaimu oppa. Saranghae oppa, saranghamnida!6”
“Aku bersedia
melakukan apapun demi bisa hidup bersamamu selamanya. Aku rela memberikan
apapun yang aku miliki agar aku bisa melihat tawamu setiap hari ku” Kazuto
mengakhiri ucapannya dan mempererat pelukannya padaku. Membuatku ingin menangis
saking aku tidak bisa menahan rasa bahagia yang ku rasakan. Tapi, semua itu
tiba-tiba berbalik. Keadaannya berubah hanya dalam satu kedipan mata. Hal yang
tidak pernah aku harapkan atau pun aku pikirkan sedikitpun untuk terjadi saat
ini.
Beberapa orang
melakukan sihir berpindah tempat dan muncul di samping kami. Membuatku terpaksa
melepas pelukan nyaman yang sedang ku nikmati itu. Aku benar-benar bingung,
kenapa banyak sekali orang disekeliling kami. Para seivo, polisi yang
memberantas vampir yang seharusnya memburu vampir itu ada diantara kerumunan
anak yang sedang berpesta. Aku tahu, dunia sihir memang sedang dalam kondisi
siaga atas maraknya teror dari para vampir yang sering menghisap darah para
penyihir. Tapi kenapa mereka ada disini. Tidak mungkin di sekolah ada vampir.
Sekolah melakukan seleksi ketat saat penerimaan siswa baru apa lagi saat ada
pesta seperti ini, pihak sekolah pasti akan memperketat semua tamu yang datang.
Lalu untuk apa mereka kesini? Aku benar-benar bingung.
“Kami mencari
Nakamura Kazuto!” teriak salah satu dari seivo yang datang. Aku tambah bingung
dibuatnya. Kenapa mereka mencari Kazuto? Apa salah dia? Kenapa harus oppa?
“Kalian semua tahu kan, kalau setahun belakangan ini semakin marak teror dari
para vampir, dan kami berhasil menditeksi keberadaan satu vampir di sekolah
ini. Dan nampaknya dia adalah vampir terakhir yang ada di dunia sihir. Dia
harus dimusnahkan, kami sudah berbicara pada pihak sekolah sebelumnya. Dan
mereka mengizinkan kami untuk membawanya malam ini juga.”
“Aku Kazuto. Dan
memang benar aku adalah vampir. Tapi aku tidak menyedot darah penyihir. Aku
sendiri berdarah penyihir.” Kazuto angkat bicara. Ia berbicara sambil terus
menatapku. Tanpa sadar air mataku mulai mengalir dan membasahi pipiku. Aku
mundur selangkah dengan perlahan. Aku benar-benar takut menerima kenyataan ini.
Aku sendiri tidak tahu, aku lebih takut hal itu menjadi nyata atau karena kau
takut Kazuto akan menyedot darahku.
5. Aku mencintaimu,
Jun-In. Diucapkan dalam bahasa Jepang.
6. Aku mencintaimu
kakak, mencintaimu. Dalam bahasa Korea.
|
|
“Kau
bersembunyi di panti asuhan selama ini agar baumu tidak tercium oleh kami. Agar
kau bisa terus bersembunyi dari kenyataan kalau kau memang vampir. Sekalipun
sekarang kau berjanji tidak akan menyedot darah penyhir, siapa yang akan menjamin
ketika kau dewasa kau juga tidak akan menyedot darah penyihir. Menyerahlah atau
kami akan membunuhmu sekarang juga.”
“Tunggu! Biarkan aku
berbicara dengannya terlebih dahulu.” Kazuto menatapku dengan tatapan penuh
rasa bersalah. Aku benar-benar tidak kuat melihatnya, terlebih ketika aku
mengingat kata-katanya sebelum ini. Kata-kata dimana ia bilang ia sangat
menyayangiku. Tapi aku tetap ingin mendengar semua penjelasan darinya. Dalam
hatiku, aku masih ingin mendengar pengakuan yang mungkin bisa membuatku merasa
sedikit lega. “Jun-In’chan, gomennasai7. Aku cuma ingin bilang kalau
saat aku kecil, aku diculik dan darahku dihisap oleh salah satu vampir. Tapi
dia tidak berniat membunuhku, melainkan menjadikanku vampir juga, sama seperti
dirinya. Tapi dia musnah saat aku berusia 7 tahun dan sebelum itu ia sempat meninggalkanku
di Jepang, di sebuah panti asuhan manusia fana. Aku tidak berniat merahasiakan
semuanya dari mu, dan juga dari mu, Keiko. Tapi aku hanya tidak ingin kalian
takut padaku. Aku sebisa mungkin menahan untuk tidak tergoda mencicipi darah
kalian. Sungguh, tidak ada sedikit pun niat dihatiku untuk menghisap darah
kalian. Percsyalah padaku.”
“Oppa” hanya itu kata
yang bisa keluar dari mulutku, setelah mendengar semua perkataannya. Lidahku
terasa kelu dan kaku. Aku hanya bisa terus menangis dan menangis.
“Oniisan!8”
aku mendengar Keiko memanggil Kazuto. Ketika aku menoleh, aku mendapati dirinya
juga sedang menangis. Riasan diwajahnya luntur lantaran air matanya. Namun ia
tidak memperdulikannya lagi. Aku berpikir, tidak hanya aku yang mengangis
tetapi Keiko juga. Keiko sudah menganggap Kazuto seperti kakaknya sendiri. Aku
merasa malu karena menangis didepan semua orang seperti ini. Tapi ketika aku
ingin mengatakan sesuatu, kazuto memulai lagi.
“Jun-In’chan, aku tahu
ini berat untukmu. Tapi aku ingin kau tahu sekarang dari mulutku langsung.”
Kazuto berbicara seakan-akan ia tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi.
Dadaku terasa sesak memikirkan jika hal itu benar-benar terjadi. “Sebetulnya,
aku baru tahu sekitar satu tahun yang lalu. Itu alasan aku memintamu
memanggilku oppa. Aku adalah kembaranmu.”
7.
Jun-In, maaf dalam bahasa Jepang.
8. Kakak laki-laki dalam bahasa
Jepang.
|
|
Mo?
Jun… Jun-Na… Jun-Na pa... oppa?” aku bertanya dengan terbata-bata. Aku tidak
tahu harus berkata apa. Aku seperti tertimpa batu besar dengan berat berton-ton
dan tidak ada satu orang pun yang mau membantuku. Seluruh duniaku berputar
dengan amat cepat. Sehingga aku tidak tahu lagi perbedaan antara mimpi dan
kenyataan. Entah aku masih terbangun atau tidak. Pernakah kau merasa sangat
kenyang sehingga kau ingin mengeluarkan kembali makanan yang telah kau makan?
Seperti itu lah yang aku rasakan. Aku benar-benar ingin muntah karena aku
bahkan sudah tidak sanggup untuk menangis lagi. Tanpa sadar aku jatuh terduduk di
lantai. Jangankan untuk berdiri, bernafas pun aku tidak sanggup lagi. Dan
seketika itu juga Kazuto, oh tidak, ia Jun-Na oppa mendekat ke arahku dan
mendekapku. Membiarkanku menangis dalam pelukannya dan membiarkanku membasahi
jas yang ia kenakan dengan airmataku.
“Gomennasai” ucapnya
sambil memelukku. Mendekatkanku ke arah jantungnya. Membiarkanku mencengkram
jasnya. Lalu ia mengecup kepalaku dengan lembut. “Mianhae.9”
“Kenapa oppa? Kenapa
semua ini begitu cepat terjadi? Kenapa semua ini harus terjadi di waktu yang bersamaan?
Kenapa oppa?” aku bertanya pernyataan yang aku sendiri tahu pasti oppa juga
tidak tahu jawabannya. Entah apa yang harus aku katakan atau aku lakukan.
Apakah aku harus merasakan bahagia karena akhirnya aku menemukan saudara
kembarku yang selama bertahun-tahun hilang. Atau aku harus merasa sedih karena
saudara kembarku itu adalah orang yang selama ini aku sukai dan ternyata ia
adalah vampir. Semua itu sungguh terlalu cepat datangnya untukku. Aku mencoba
menggelengkan kepalaku. Berharap aku terbangun dan menyadari semua ini hanya
mimpi dan aku terbangun dalam kondisi yang baik-baik saja. Tapi semua itu tetap
berada di sana. Semua itu benar nyatanya. Dadaku terasa semakin sesak.
Membuatku semakin kuat mencengkram jasnya dan terus saja menangis.
“Maaf, drama ini
harus berakhir. Kau akan kami musnahkan. Jika kau mau ikut secara baik-baik
dengan kami, maka kami tidak akan memaksamu. Atau kami akan langsung membunuhmu
di sekolahmu tercinta ini Kazuto?” ucap salah satu seivo ketika kami mencoba
berdiri kembali.
“Tidak! Aku ingin kau
yang membunuhku Jun-In.” perkataanya yang mendadak itu membuatku pelepaskan
pelukan eratnya. Mendorongnya menjauhi tuhuhku. Aku tidak percaya oppa tega
mengatakan hal itu. Tidak puaskah kau membuatku terkena serangan jantung dalam
sekejap. Tidak cukupkah kau memberikan beban yang sangat mendadak ini untukku.
Dan sekarang kau ingin aku membunuhmu. Membunuh saudara kembarku sendiri.
Disini, di sekolah. Aku sungguh tidak tahan lagi melihatnya berdiri di depanku.
Airmata juga membasahi pipinya yang memerah, namun langsung ia hapus begitu aku
menatapanya.
“Aku tidak bisa oppa.
Aku tidak mau.”
9. Maafkan aku, dalam bahasa Korea.
|
|
“Kau
harus bisa. Ini saat nya kau membuktikan kalau kau bisa melakukan sesuatu yang
berguna dan berarti bagi seluruh penduduk dunia sihir. Keluarkan bilah
terkutukmu itu Jun-In. ayo…” oppa terus mendesakku untuk mengeluarkan bilah
terkutukku itu. Senjata yang selama ini aku miliki dan sekarang tergantung
dalam bentuk kalung di leherku. Sementara aku tidak bisa melakukan apapun
selain menangis, oppa mendekat kearaku lagi dan melepaskan kaitan kalungku itu.
Membuat bilah terkutuk kembali ke dalam ukuran normal. Menaruhnya di telapak tanganku
yang kebas. Lalu kedua tangannya terangkat kearah wajahku. Ia menghapus air
mata yang mengalir di pipiku. Sementara aku terus saja menggeleng. “Kau tidak
ingin melihatku mati di tangan orang lain kan Jun-In?”
“Tentu saja aku tidak
mau. Tapi aku tidak bisa oppa. Mianhae oppa, mianhae.” Aku hanya bisa menangis
dan terus saja menggelengkan kepala. Tentu saja aku tidak mau melihatnya mati
di tangan orang lain. Tapi untuk membunuhnya, aku juga tidak sanggup. Untuk
menggerakan tanganku saja rasanya seperti tidak memiliki tenaga sedikit pun. “Mianhae
oppa, aku tidak bisa melihatmu mati. Saranghae oppa… saranghae oppa.”
“Berhentilah menanggis,
ku mohon. Aku tidak bisa terus melihatmu menangis Jun-In. karena setiap kau
menangis, wajahmu akan terlihat lucu. Membuatku tidak ingin meninggalkan mu.
Dan ketika melihatmu menangis, aku semakin merasa bersalah pada appa10
dan omma11 karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Karena aku
tidak bisa melindungimu. Karena aku, kau menjadi sendirian dan karena aku, kau
harus melakukan semua ini. Aku jadi tidak bisa meninggalkanmu dengan tenang
Jang Jun-In.”
“Maka itu aku tidak
mau melakukannya oppa. Karena aku juga tidak ingin berpisah lagi denganmu.
Cukup selama ini aku kehilanganmu. Ku mohon Jun-Na oppa… bagaimana dengan appa
dan omma? Mereka pasti juga merindukanmu.”
“Biarkan mereka tetap
mengetahui kalau aku menghilang. Bilang pada mereka, kalau mereka harus terus
melanjutkan hidup dan tidak boleh memikirkan aku lagi, karena aku tidak akan
pernah kembali. Bilang pada mereka bahwa suatu saat kita pasti bisa berkumpul
kembali di sebuah tempat yang lebih layak dari pada disini. Bilang juga kalau
aku sangat menyayangi mereka dan mencintai mereka sepenuh hatiku.”
“Oppa…”
10. Ayah dalam bahasa Korea.
11. Ibu dalam bahasa Korea.
|
|
“Dan
kau, aku juga sangat menyayangimu, semua yang ku katakan tadi benar. Aku
sungguh mencintaimu Jun-In. aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Aku mohon,
kau harus bisa melanjutkan hidupmu meskipun tanpa aku. Seperti yang telah kau
jalani selama ini. Kau sadar, bahwa selama ini perasaan mu hanyalah perasaan
cinta antar saudara kembar saja. Kau pasti bisa melupakanku, aku yakin itu. Dan
aku mohon, kau harus bisa melanjutkan hidupmu seperti semula dan terus
berjuang. Raihlah cita-citamu, jadilah seorang penari seperti yang selama ini
kau idam-idamkan. Kau tahukan, selama ini Ryan sangat mengukaimu? Dia adalah
orang yang baik. Aku yakin dia akan mencintaimu sepenuh hatinya. Cobalah untuk
membuka hatimu untuknya. Tersenyumlah Jun-In, tersenyumlah. Jika kau tidak bisa
tersenyum kembali, aku tidak akan tenang meninggalkanmu. Aku akan hidup
menderita di dunia setelah ini. Aku mohon untuk juga hidup bahagia disini.
Karena dengan begitu, kita akan sama-sama hidup tenang, bahagia dan damai.
Ingatlah aku ketika kau merasa terpuruk, ingatlah kalau kau sedih disini aku
juga akan ikut sedih disana. Pikirkan keadaanku juga Jun-In. Berusahalah untuk
menjalani hidup seperti semula, anggap semua ini tidak pernah terjadi.”
Yang bisa ku lakukan
hanya menangis. Mendengar semua perkataan yang diucapkan oppa membuatku ingin
memeluknya dan tidak akan membiarkannya untuk pergi. Aku menerjang kearahnya
masih dengan airmata yang terus mengalir di pipiku. Aku mencoba tersenyum
untuknya, setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan. Oppa mendekapku sangat
erat, membuatku teringat semua hal yang pernah kita lewati bersama. Saat dimana
semuanya terasa baik-baik saja. Saat-saat ketika kami masih kanak-kanak dan oppa
memainkan biolanya dengan sangat indah, sementara aku menari balet lengkap
dengan baju balet ku yang berwarna putih. Appa dan omma selalu melihat
penampilan kami dan ketika kami turun dari panggung buatan kami sendiri di
rumah, mereka akan memeluk kami dengan sangat bahagia.
Saat itu, semua
begitu indah dan menyenangkan. Mengingat semua kenangan itu membuatku larut
dalam luapan emosi yang juga membuatku lengah. Tanpa sadar oppa menggerakan
tangan kananku yang menggenggam bilah terkutuk dan menikan dirinya sendiri. Membuatku
tersentak kaget dan ketika ku sadar, aku telah mendapatkan dirinya memudar.
Bayangan dirinya yang semakin menghilang membuat jantungku ingin meloncat
keluat dari tubuhku. Oppa tersenyum dan terus tersenyum sambil tetap menatapku.
Lalu sedetik kemudian yang ada di depanku hanyalah butiran pasir, sisa dari
dirinya yang ia tinggalkan untukku. Butiran pasir yang hanya bisa terjadi jika
ada vampir yang dengan suka rela mengorbankan dirinya untuk dimusnahkan.
Butiran pasir yang dimaksudkan agar orang-orang yang pernah mengenalnya dapat
mengenangnya dengan cara menyimpan pasir tersebut.
Airmata terus mengalir
dipipiku. Semua orang ikut larut dalam suasana berkabung. Keiko menangis dalam
pelukan Alex dan aku sendiri hanya bisa terduduk dalam tangis yang urung
selesai. Waktu seakan berhenti berjalan, dan langit seakan ikut merasakan
kesedihan yang ku alami. Ryan datang dan mencoba memelukku dari belakang.
Kubiarkan dia memeluk tubuhku, ikut merasakan getaran tubuhku yang diakibatkan
karena aku menangis begitu kuat. Dewan guru yang ada hanya bisa menenangkan
para murid yang ikut mengangis. Mereka, satu per satu mengucapkan rasa belasungkawanya
pada ku dan memberiku semangat. Para seivo mengumpulkan butiran pasir Jun-Na
oppa, menaruhnya dalam sebuah guci berukuran sedang yang sangat manis jika kau
tidak tahu apa yang ada didalamnya. Setelah mereka selesai menaruhnya, kepala
sekolah menutupnya dengan kain hitam dan mengikat guci tersebut dengan pita
berwarna putih, lalu memberikanya padaku. Tapi Ryan yang menerimannya, lalu ia
bawa guci itu keluar dari aula. Ia membawanya menuju halaman sekolah dan
berhenti di depan pohon rindang, tempat kami biasanya berkumpul untuk sekedar
berbincang. Ia mengubur guci tersebut menggunakan sihir dan menaruh karangan
bungga di dekat bekas dari galian tanah tersebut.
“Disini, pahlawan
yang sesungguhnya disemayamkan. Seseorang yang rela membiarkan dirinya musnah
demi kesejahteraan seluruh dunia sihir. Kita harus memberi penghormatan yang
layak untuknya. Seorang pahlawan sejati. Juga untuk kembarannya yang turut
andil dalam menyelamatkan dunia sihir. Bukan hal yang patut mereka banggakan
memang. Tapi setidaknya, kita dapat membantunya dengan tidak mengungkit-ungkit
lagi tentang hal ini, agar ia tidah bersedih lagi.” Ryan terus berkata sambil
tetap menatapku yang menangis. Memberiku kekuatan tersendiri untuk tersenyum.
Aku akan mencoba membuka hati untuknya, seperti yang oppa bilang.
Satu per satu mereka
meninggalkan halaman dan kembali melanjutkan malam mereka yang terganggu. Tapi
nampaknya mereka kembali ke kamar masing-masing. Saat semua orang sudah tidak
lagi berada di halaman sekolah, aku duduk dan menangis sambil terus memandangi
rangkaian bunga yang Ryan berikan untuk oppa. Aku melepaskan bunga mawar putih
dari rambutku dan meletakannya di samping karangan bunga dari Ryan. “Oppa…
saranghae. Aku akan mencoba hidup normal seperti permintaanmu. Aku mohon oppa,
bantulah aku. Bantulah aku untuk melewati hari-hariku setelah ini.”
* * *
Sepuluh tahun berlalu
sejak kejadian itu. Selama aku masih bersekolah, tiap malam diam-diam aku masih
suka menangis di kamar asrama Nawizard School. Setiap aku melewati pohon itu,
aku akan terdiam beberapa saat dan menangis. Aku selalu berdoa untuk oppa dan
mengenang semua kenangan indahku dengannya. Sulit buatku untuk bangkit dari
kesedihanku. Namun, sedikit demi sedikit aku dapat mengendalikan diriku sendiri
untuk tidak menangis lagi. Seperti perkataan oppa saat itu, aku harus berhenti
menangis. Hal ini masih tetap ku rahasiakan dari orang tua ku. Seluruh sekolah
membantuku untuk tidak memberitahukannya kepada mereka. Mereka bahkan tidak
menyinggung lagi tentang hal itu, mereka sangat menghargai perasaanku.
Memberikanku sedikit kekuatan untuk bangkit kembali, bangkit dari kesedihanku.
Perkataan oppa selalu terngiang-ngiang dibenakku. Membuatku mencoba untuk
tersenyum kembali. Memberiku kekuatan tersendiri untuk melanjutkan kehidupanku.
Aku harus bangkit karena semua orang juga membantuku untuk bangkit dan hidup
seperti dulu. Meskipun sesungguhnya aku tidak akan pernah bisa bernafas seperti
dulu, karena lubang dihatiku akan terus berada disana.
“Jun-in, apakah kau
sudah siap?” aku menoleh dan mendapati diriku berada didepan pohon besar itu.
Tempat dimana oppa beristirahat dalam damai. Ryan berjalan dari arah aula
menuju tempatku berdiri. Ia mengenakan setelanan jas semi formal berwarna
coklat tua yang terkesan berkarisma. “Aku mencarimu kemana-mana dan menemukannu
sedang berada disini. Tadinya aku ingin membiarkamu sebentar berada disini,
tapi sepertinya kau melamun.”
“ah.. tidak. Aku
hanya mengucapkan terima kasih pada oppa karena sempat hadir di hidupku dan
membuat hari-hariku di sekolah menjadi penuh warna.” Ucapku sambil tersenyum
kearah Ryan. “Kau sudah selesai bertemu para guru kan Ryan. Apa kau
menyampaikan salamku untuk mereka?”
“Tentu saja… Ayo kita
melakukan sihir berpindah tempat. Kau bilang kau ingin kerumah orang tuamu
terlebih dahulu sebelum kita kembali bekerja?”
“Ne… sebentar, aku
ingin mengatakan sesuatu ke oppa.” kataku sekali lagi ke Ryan, lalu aku kembali
menoleh kearah pohon besar di hadapanku itu. “Oppa, gomawo. Sekarang aku sudah
menjadi guru tari, tapi di sebuah sekolah di dunia fana. Aku pikir, aku lebih
baik tinggal disana karena aku pasti dapat dengan mudah melakukan apa yang ku
mau dibandingkan jika aku tetap disini. Daah oppa. Kapan-kapan aku akan kembali
kesini untuk menengokmu.”
Kemudian aku berbalik
dan berjalan ke arah Ryan, mengandeng tangannya dan kembali berjalan sambil
tersenyum manis kepadanya. Kami melakukan sihir berpindah tempat dari dunia
sihir ke dunia fana. Kami tiba di Korea sedetik kemudian. Jalanan yang sepi
membuat kami tidak diperhatikan orang lain. Aku sudah mencoba membuka hatiku
untuk Ryan sejak oppa memintaku malam itu. Dan sekarang kami sudah berhubungan
selama lebih dari 7 tahun. Aku sangat menyayanginya, sama atau mungkin lebih
dari pada aku menyukai mu oppa.
“Jun-In, would you be my world?” ucapnya
tiba-tiba sambil mengeluarkan kotak cincin. “Would you always with me?” Astaga,
Ryan melamarku. Ia menyatakan hal penting itu di jalan setapak, di sebuah taman
yang asri di kota Jin-an, Korea Selatan. Aku tak tahu ia sengaja atau tidak,
tapi ia melamarku tepat pada saat kami sedang berada di sebuah tempat yang
sangat indah. Di tengah-tengah deretan pohon bunga sakura yang menjatuhkan
bunganya di musim gugur ini. Ini sangat romantis. Membuatku mengingat semua
yang terjadi saat oppa bilang kalau ia juga menyukaiku. Dadaku terasa penuh,
aku benar benar bahagia sekarang. Aku tersenyum kearahnya tapi aku juga
mengangis, aku menangis karena aku bahagia. Sangat bahagia.
“Kenapa kau
menangis?” Ryan panik dan bertanya padaku. Ia menghapus airmataku dengan lembut.
Ku abaikan pertanyaannya dan aku malah menerjang kearahnya. Ku peluk ia
erat-erat sekuat yang ku bisa untuk meredam rasa senangku agar aku tidak
seperti orang aneh. Aku benar-benar sangat bahagia. Oppa, kau pasti lihat dari
tempatmu sekarang kan? Aku bisa melanjutkan hidupku meski kau sudah tidak
bersamaku. Aku bisa mengantikanmu dengan orang lain. Kurasa lubang dihatiku
sudah bisa tertutup kembali. Aku
berhasil tersenyum kembali. Benar apa katamu, aku bisa melakukan itu. Gomawo
oppa, gomawo. Meskipun kini aku sudah bersama Ryan, tapi kau tetaplah kembaranku.
Orang yang sangat aku cintai selain dirinya. Oppa, selamanya kau akan tetap
hidup di dalam hatiku. Dan tak pernah satu detik pun kau hilang dari hatiku.
Darahmu terus mengalir dalam darahku. Selamanya aku mencintaimu. Oppa…
saranghae.
-TAMAT-