Kamis, 28 Mei 2015

PENDIDIKAN BANGSA KU

Resume PKMF 1

Sabtu, 23 Mei 2015 bertepatan dengan acara dari BEMJ Fisika yaitu Festival Keilmiahan Fisika yang mana juga ada acara penting lainnya yaitu PKMF 1. Saya tidak dapat mengfhadiri PKMF 1 dikarenakan saya bertugas sebagai timekeeper sekaligus yang memantau keberlangsungan acara. Pada pra PMKF saya telah meminta izin kepada kak Ichsan dan kemudian pada hari Jumat. Pada hari Sabtu saya meminta izin kembali kepada kak Hafidz dan kak Hafidz meminta saya datang jam 10 jika bisa. Namun, sayangnya saya tidak dapat meninggalakan amanah saya di FKF saat itu dan hanya mendengar gambaran kasar dari teman-teman mengenai keberlangsungan acara PKMF 1.

Acara dibuka oleh kak Zidni yang kemudian sambil menunggu pembicara kak Zidni menanyakan beberapa pertanyaan kepada peserta. Jam 10 pembicara baru datang, pembicara saat itu adalah kak Ferly Ferdiant yang merupakan aktivis UNJ dengan dimoderatori oleh kak Habib. Kak Ferly mengangkat tema “Pendidikan Kontemporer”. Permasalahan pendidikan yang dialami Indonesia adalah permasalahan pada tenaga pendidik yang hanya mengajarkan murid agar bisa menjawab soal ujian. Kemudian PPG yang menurut kak Ferly adalah jalur instan guru professional tidak dapat menjamin baiknya kinerja guru. Selain itu permasalahan pada memuda adalah kurangnya minat baca serta kuliah hanya 5 tahun yang menimbulkan banyak pertanyaan.

Berikut adalah kebijakan dari pemerintah yang tidak seluruhnya baik.
1. Ujian Nasional tidak menentukan kelulusan, 
2. Penghapusan Kurikulum 2013,
3. Kartu Indonesia Pintar, Semua Anak Bisa Wajib Belajar 12 tahun,
4. Kesejahteraan PNS Ditingkatkan,
5. Sekolah Negeri Harus Bebas Simbol Agama (Ada kebijakan tata cara berdo'a agar tidak didominasi dengan Islam, tapi kebijakan itu dicabut lagi.)
 6. Kemendikbud Bakal Ganti Buku  Pelajaran dengan Tablet,
7. Kemendikbud Akan Bentuk Direktorat Keayahbundaan.
             intinya masih banyak permasalahan pendidikan Indonesia saat ini.

Setelah itu jam 12.20 semua peserta kembali dan dikumpukna perkelompok serta di berikan tuga baru. Setelah itu peserta dibolehkan pulang. Namun sata tidak sempat menyusul dikarenakan saat ingin menyusul peserta PKMF sudah pulang. Setidaknya saya tau perkembangannya lah.

#HIDUP MAHASISWA
#HIDUP MAHASISWA !!!
#HIDUP PENDIDIKAN INDONESIA !!!


#PKMFMIPA2015
#MenginspirasiTanpaBatasBangunSemangatTotalita
#BEMFMIPA
#MenujuFMIPAMadani

Sabtu, 16 Mei 2015

Kepemimpinan untuk Masa Depan

Sabtu, 16 Mei 2015 pagi yang cerah untuk memulai kegiatan bermanfaat. Salah satunya adalah Para PKMF 2015 yang diselenggarakan di ruang 1.6 dan 1.7. Pukul 10 pagi, acara Pra PKMF dimulai dengan Bismillah oleh MC yaitu Kak Faik Setyadi, Kimia 2013. Selanjutnya adalah pembacaan ayat suci Alquran oleh Andri Kosiret, Matematika 2014. Setelah lantunan ayat suci yang indah tersebut, Andri juga membacakan arti dari ayat yang telah ia baca tersebut.
Sebelum materi dimulai, acara di buka dengan sambutan dari Ketua Pelaksana PKMF 2015 yaitu kak Ichsan Nur Darmawan, Kimia 2013. Kak Ichsan menyampaikan kata-kata cinta penuh makna. Dari 1 kata cinta hingga 6 kata cinta untuk peserta Pra PKMF yang telah hadir mengikuti rangkainan acara PKMF 2015. 6 kata cinta tersebut adalah “Menginspirasi Tanpa Batas, Bangun Semangat Totalitas”. Selanjutnya sambutan dari Wakil Ketua BEM FMIPA yaitu kak Arief Setiawan, Kimia 2012, yang merupakan perwakilan BEM FMIPA.

Setelah itu sambutan dari kak Arief, ada pula sambutan dari Pembantu Dekan III yaitu Pak Rusdy, Biomed. Pak Rusdy berpesan bahwa pemimpin berbeda dengan ketua atau kepala. Ketua ada karena ada suatu proses pemilihan, sedangkan kepala ada karena ditunjuk. Sedangkan pemimpin hadir dari diri mereka sendiri. Seorang pemimpin haru dapat memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. beliau mengatakan bahwa hasil research di Amerika orang yang berhasil dengan IQ tinggi hanya berkisar 11%. Sedangkan orang yang berhasil bukan karena IQ adalah sekitar 89% yaitu karena komunikasi dan softskill, yang dalam hal ini dapat diasah dengan berbagai cara. Salah satu cara tersebut adalah dengan berorganisasi. Beliau bercerita bahwa beliau dan teman-teman beliau satu angkatan yang pernah bergabung dalam organisasi saat ini berhasil menjadi seorang pemimpin, diantaranya adalah Bapak Dekan FMIPA. Beliau juga berpendapat bahwa membangun sifat kepemimpinan tidak bisa dilakukan dalam 3 hari saja seperti PKMF ini, tetapi selama berada di UNJ adalah saat dimana karakter pemimpin dibentuk. PKMF adalah sarana untuk lebih membentuk karakter pemimpin tersebut. karena sikap kepemimpinan yang dibentuk lebih baik disbanding yang ada sejak lahir.

Sabutan yang luar biasa dari kakak-kakak dan juga Pak Rusdy tersebut diikuti materi yang luar biasa. Materi “Urgensi Kaderisasi” dibawakan oleh KaDept. Dagri BEM UNJ 2015 yaitu kak Riza Pahlevi, Biologi 2011, yang dimoderatori oleh kak Habiburasyid, Fisika 2013. Mengapa kaderisasi sangat penting dilakukan ialah karena dalam Alquran pun kita telah diperintahkan oleh Allah bahwa “Jangan pernah meninggalkan generasi yang lemah dibelakang mereka” dalam surah An-Nisa ayat 9. Yang mana kaderisasi adalah proses untuk menyiapkan dan membentuk generasi berikutnya. Karena apabila dalam organisasi tidak menyiapkan dan membentuk atau tidak mengkader generasi berikutnya, maka organisasi tersebut akan mati.

Dalam kaderisasi terdapat dua komponen. Komponen pertama adalah pelaku dan komponen kedua adalah objek atau sasaran. Pelaku harus mengenal dan memahami objek yang akan dikaderi. Dan objek jangan sampai tahu kalau ia sedang dikaderi. Kaderisasi yang berhasil adalah pengkaderan tanpa sadar. Dalam kaderisasi juga terdapat peran dan fungsi kaderisasi.yang pertama adalah screening atau melihat secara keseluruhan. Biasaanya dilakukan saat MPA dan PKMJ. Pelaku melihat calon-calon yang berpotensi dan mengenal lebih jauh terhadap objek atau sasarannya tersebut. kedua adalah rekruitmen yang contohnya adalah saat pendaftaran BEM atau organisasi lainnya. Ketiga adalah pembentukan sikap kepemimpinan dari objek yang akan dikaderi. Setelah mengenal dan merekrut objek tentu harus dibarengi pula dengan pembentukan jiwa kepemimpinan yang dapat dilakukan dengan member amanah. Keempat adalah pengembangan dari yang telah dibentuk tersebut. pengembangan dapat dilakukan dengan member ruang untuk mengembangkan softskill. Yang terakhir adalah penjagaan yang juga mulai dilakukan saat proses rekruitmen.

Tips dari kak Riza agar penjagaan yang dilakukan tidak membosankan adalah memilih waktu yang berbeda dan tempat yang berbeda dari biasanya bertemu yang tentu akan berhubungan dengan loyalitas. Salah satu cara membentuk loyalitas adalah memberi kesenangan dahulu baru kemudian memberi amanah. Kak Riza juga mengatakan bahwa loyalitas seseorang dalam organisasi dapat dilihat dari kehadiran orang tersebut dalam organisasinya. Apabila seseorang jarang datang dikarenakan masalah selain masalah finansial dan keluarga, masalah tersebut tidak dapat ditolerir. Apabila dalam mengkader terjadi masalah, terlebih dahulu mengecek ruhiyah. Karena apabila kita jaug dari sang pencipta, maka kita juga akan jauh dari makhluk-Nya. Dan apabila loyalitas berkurang karena masalah akademi, itu bukan sebuah alasan. Karena apabila itu bergabung dalam organisasi tentu ia udah memikirkan konsekuensinya dan hal tersebut merupakan tanggung jawab pribadi.


Setelah materi yang begitu bermanfaat tersebut, dilanjutkan dengan pembagian nama kelompok dan penugasan. Saya berada di kelompok 1 dengan kakak fasil adalah kak Bagus Tito Wibisono yang berupakan Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Kelompok 1 mendapat penugasan mewawancarai Ketua BEM FIK dan juga PD III dari FIS. Setelah ishoma, pukul 12,30 kami berkumpul dengan kakak fasil. Kak Bagus terlebih dahulu menanyakan kabar untuk lebih mengenal. Kak Bagus berpesan dalam tugas danus, kalau bisa antimainstream. Maksudnya jangan melulu menjual makanan ke teman sendiri tetapi menjual yang lain ke orang lain. Kak Bagus Juga berpesan bahwa akademik tetap harus diutamakan. Sempatkan mengerjakan tugas selagi belum sibuk. Setelah berkumpul dengan fasil, ada doa penutup dari kak Hersa, Matematika 2013. Dan setelah itu acara Pra PKMF telah selesai.

#HIDUPMAHASISWA
#HIDUPRAKYATINDONESIA
#HIDUPPENDIDIKANINDONESIA

#PKMFIMPA2015_Litia Dita Mulyar_Fisika_Kelompok1
#PKMFmenginspirasi


Selasa, 03 April 2012

cerpen "saranghamnida oppa"


 Saranghamnida Oppa

Aku memandangi bayangan diriku di cermin. Pantulan diriku yang terbalut Hanbok dengan warna atasan putih dan roknya yang berwarna merah muda. Tali Hanbok-ku berwarna hitam dipermanis dengan rajutan bergambar bunga dari benang warna putih. Aku mengepang rambutku yang sepanjang pinggang dan menambahkan jepitan rambut berbentuk pita berwarna putih. Seharusnya aku tak boleh memakai itu, karena di Korea hal itu melambangkan keluarga yang berkabung. Tapi menurutku itu hanya mitos dan aku tetap memakainya. Lagi pula hari ini adalah hari yang paling bahagia jadi tidak mungkin ada hal yang menyedihkan. Malam pesta dansa akhir tahun. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memikirkan kegagalanku dalam ujian pertahanan diri minggu kemarin. Hari itu benar-benar membuatku down karena aku tidak bisa lolos ujian, aku tidak bisa membunuh monster yang sudah dijinakkan. Aku berpikir kalau aku tidak cocok dengan senjataku itu, bilah terkutuk. Tapi, aku sudah terlanjur berjanji kepada semua sahabatku kalau aku tidak akan menangis lagi karena gagal dalam ujian.
“Kau sudah sangat cantik Jang Jun-In, percayalah padaku.” Aku mendengar seseorang berkata kepadaku dari arah luar kamar asramaku di Nawizard School. Nakamura Keiko. Seorang gadis cantik asal Jepang yang mengenakan gaun berwarna ungu tua yang glamor dan dipermanis dengan tas tangan yang sangat serasi untuknya. Rambutnya yang hitam disanggul sederhana itu mempercantik penampilannya malam ini. Dia tersenyum kearahku sambil terus berjalan memasuki kamar kami.
“Yap, aku tahu itu Keiko’ah1.” Aku menanggapi ucapannya, lalu tersenyum lebar kearahnya. Aku menarik lengannya dengan lembut dan berjalan kearah luar untuk pergi ke aula besar. Hari ini adalah hari di mana aku dan Keiko untuk pertama kalinya pergi ke pesta dengan pasangan kami. Keiko akan pergi dengan Alex Cave, sahabat kami yang berdarah Eropa. Keiko sendiri sudah sangat menyukainya semenjak mereka bertemu di pembagian kamar asrama. Dan aku sendiri akan pergi bersama Kazuto, sahabatku yang lain yang sudah sangat ku sukai sejak aku tahu kalau ia memiliki banyak kesamaan dengan ku. Nakamura Kazuto, ia berasal dari sebuah panti asuhan yang sama dengan Keiko. Panti asuhan Nakamura di pinggiran kota Kyoto. Mereka ditemukan memiliki darah penyihir ketika mereka berusia 12 tahun oleh kepala sekolah kami. Tepatnya 4 tahun lalu, saat tahun ajaran baru di Nawizard School dimulai.

1.Tambahan “ah” biasa diucapakan untuk memanggil seseorang yang sudah dikenal akrap atau untuk memanggil sahabat. Jika seseorang sudah memanggil dengan tambahan “ah” setelah nama, berarti ia sudah menganggapnya sebagai teman.
 
Aku dan Keiko memutuskan untuk bertemu Kazuto, Alex dan Ryan di aula besar, karena kami takut akan terlalu lama berdandan dan mempersiapkan diri kami. Ryan Bonas akan pergi bersama Charol Jasleen. Ryan adalah seorang sahabatku asal Amerika dan Charol sendiri asal Afrika. Gosip yang beredar adalah Ryan menyukaiku sejak kami masih kecil, tapi setiap aku tanya padanya ia tidak pernah mengakuinya. Aku pun tidak terlalu memperdulikannya, karena aku sudah sangat menyukai Kazuto. Dan kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Bukan sebuah hubungan seperti sepasang kekasih memang. Tapi sudah satu tahun ini Kazuto memintaku untuk memanggilnya “oppa2”. Sebuah kata sederhana namun bermakna untukku. Dan aku menganggapnya sebagai sebuah tanda kalau ia juga menyukaiku.
“Jun-In’chan3!” Kazuto menyapaku saat aku dan Keiko mulai memilih makanan pembuka,  “Kau sangat cantik mengenakan Hanbok itu Jun-In’chan.”
“Gomawo oppa.4” Aku hanya bisa menjawab itu sambil tersenyum malu.
Ketika Kazuto, Ryan, dan Alex sudah datang dan berdiri di dekat kami, kami hanya saling tersenyum. Jujur saja, aku sangat malu pada Kazuto. Kazuto datang dengan setelan jas berwarna kelabu, ia juga membawa setangkai mawar putih untukku. Mawar itu lalu ia selipkan di ujung rambutku yang terkepang. Diam-diam aku takut kalau dia tidak akan mengajakku berdansa malam ini, karena aku tahu ia sangat jarang menunjukan perhatiannya di depan umum. Dan Alex-lah yang mengajak Keiko berdansa pertama kali. Mereka pergi kelantai dansa dengan sangat serasi. Sementara kami masih mengobrol sambil memakan beberapa kue yang dihidangkan pihak sekolah untuk para murid. Setelah menenggak satu gelas minuman bersoda, Ryan mengajak Charol berdansa menyusul Alex dan Keiko. Suasana canggung mulai terasa diantara aku dan Kazuto. Namun akhirnya, ia mengajakku untuk berdansa juga. Ia membuatku merasa sangat gugup.
Kami berjalan sambil bergandengan tangan kearah lantai dansa. Tangannya mengalirkan rasa dingin keseluruh tubuhku. Membuatku merasa nyaman dan aman berada didekatnya. Sensasi dingin yang berbeda dari semua sensasi dingin yang pernah ku rasakan. Itu sungguh membuatku bahagia, benar-benar bahagia. Ia meletakan tangannya yang bebas ke pinggangku dan ia mulai mendekapku dalam alunan melodi indah yang berasal dari piano dan biola. Aku memejamkan kedua mataku. Menikmati setiap detik yang berlalu diantara kami. Aku juga semakin erat memeluk Kazuto, berharap dialah yang akan menjadi jodohku kelak, karena aku sangat mencintainya. Alunan melodi indah itu seakan membuatku semakin hanyut dalam kenyamanan tubuhnya dan semakin membuatku tidak ingin berpisah dengannya. Aku harus bertanya apakah ia benar-benar menyukaiku atau hanya mempermainkanku. Karena jika ia hanya mempermainkanku, semua ini tak lebih dari pada cara untuk menyakiti hatiku dengan amat kejam.
“Oppa…” aku benar-benar gugup untuk bertanya, tapi aku bulatkan tekatku dan melanjutkan pertanyaanku. “Oppa, apakah kau benar-benar menyukaiku? Maksudku, apa kau benar-benar menyayangiku dengan sepenuh hatimu?”

2. Kakak laki-laki dalam bahasa Korea.
3. “Chan” diucapkan untuk memanggil perempuan atau anak kecil dalam bahasa Jepang, biasanya untuk yang sudah dekat.
4. Terima kasih kakak dalam bahasa Korea.
 
“Tentu saja aku menyukaimu.” Jawabnya dengan senyuman yang membuatku merasa melambung ke awan. Aku merasakan dadaku penuh dengan semua kata-kata manis yang ada dikosakata dalam bahasa apa pun. Aku merasakan luapan emosi yang membuatku ingin selalu tersenyum. Tidak ada yang dapat melukiskan perasaanku saat ini. Ini sungguh membuatku tidak ingin berpisah dengannya. Lalu ia mulai melanjutkan kata-katanya untuk mempertegas semuanya. “Aku sangat menyukai, menyayangi dan mencintaimu Jang Jun-In. Aishiteru Jun-In’chan5. Aku mencintaimu sepenuh hati dan dengan seluruh hidupku.”
“Benarkah?” aku benar-benar tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya. Sepersekian detik aku pikir aku salah dengar. Tapi melihatnya tersenyum cerah, membuatku yakin sepenuhnya kalau dia benar-benar berkata jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam. “Aku juga menyukaimu oppa. Saranghae oppa, saranghamnida!6”
“Aku bersedia melakukan apapun demi bisa hidup bersamamu selamanya. Aku rela memberikan apapun yang aku miliki agar aku bisa melihat tawamu setiap hari ku” Kazuto mengakhiri ucapannya dan mempererat pelukannya padaku. Membuatku ingin menangis saking aku tidak bisa menahan rasa bahagia yang ku rasakan. Tapi, semua itu tiba-tiba berbalik. Keadaannya berubah hanya dalam satu kedipan mata. Hal yang tidak pernah aku harapkan atau pun aku pikirkan sedikitpun untuk terjadi saat ini.
Beberapa orang melakukan sihir berpindah tempat dan muncul di samping kami. Membuatku terpaksa melepas pelukan nyaman yang sedang ku nikmati itu. Aku benar-benar bingung, kenapa banyak sekali orang disekeliling kami. Para seivo, polisi yang memberantas vampir yang seharusnya memburu vampir itu ada diantara kerumunan anak yang sedang berpesta. Aku tahu, dunia sihir memang sedang dalam kondisi siaga atas maraknya teror dari para vampir yang sering menghisap darah para penyihir. Tapi kenapa mereka ada disini. Tidak mungkin di sekolah ada vampir. Sekolah melakukan seleksi ketat saat penerimaan siswa baru apa lagi saat ada pesta seperti ini, pihak sekolah pasti akan memperketat semua tamu yang datang. Lalu untuk apa mereka kesini? Aku benar-benar bingung.
“Kami mencari Nakamura Kazuto!” teriak salah satu dari seivo yang datang. Aku tambah bingung dibuatnya. Kenapa mereka mencari Kazuto? Apa salah dia? Kenapa harus oppa? “Kalian semua tahu kan, kalau setahun belakangan ini semakin marak teror dari para vampir, dan kami berhasil menditeksi keberadaan satu vampir di sekolah ini. Dan nampaknya dia adalah vampir terakhir yang ada di dunia sihir. Dia harus dimusnahkan, kami sudah berbicara pada pihak sekolah sebelumnya. Dan mereka mengizinkan kami untuk membawanya malam ini juga.”
“Aku Kazuto. Dan memang benar aku adalah vampir. Tapi aku tidak menyedot darah penyihir. Aku sendiri berdarah penyihir.” Kazuto angkat bicara. Ia berbicara sambil terus menatapku. Tanpa sadar air mataku mulai mengalir dan membasahi pipiku. Aku mundur selangkah dengan perlahan. Aku benar-benar takut menerima kenyataan ini. Aku sendiri tidak tahu, aku lebih takut hal itu menjadi nyata atau karena kau takut Kazuto akan menyedot darahku.

5. Aku mencintaimu, Jun-In. Diucapkan dalam bahasa Jepang.
6. Aku mencintaimu kakak, mencintaimu. Dalam bahasa Korea.
 
“Kau bersembunyi di panti asuhan selama ini agar baumu tidak tercium oleh kami. Agar kau bisa terus bersembunyi dari kenyataan kalau kau memang vampir. Sekalipun sekarang kau berjanji tidak akan menyedot darah penyhir, siapa yang akan menjamin ketika kau dewasa kau juga tidak akan menyedot darah penyihir. Menyerahlah atau kami akan membunuhmu sekarang juga.”
“Tunggu! Biarkan aku berbicara dengannya terlebih dahulu.” Kazuto menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah. Aku benar-benar tidak kuat melihatnya, terlebih ketika aku mengingat kata-katanya sebelum ini. Kata-kata dimana ia bilang ia sangat menyayangiku. Tapi aku tetap ingin mendengar semua penjelasan darinya. Dalam hatiku, aku masih ingin mendengar pengakuan yang mungkin bisa membuatku merasa sedikit lega. “Jun-In’chan, gomennasai7. Aku cuma ingin bilang kalau saat aku kecil, aku diculik dan darahku dihisap oleh salah satu vampir. Tapi dia tidak berniat membunuhku, melainkan menjadikanku vampir juga, sama seperti dirinya. Tapi dia musnah saat aku berusia 7 tahun dan sebelum itu ia sempat meninggalkanku di Jepang, di sebuah panti asuhan manusia fana. Aku tidak berniat merahasiakan semuanya dari mu, dan juga dari mu, Keiko. Tapi aku hanya tidak ingin kalian takut padaku. Aku sebisa mungkin menahan untuk tidak tergoda mencicipi darah kalian. Sungguh, tidak ada sedikit pun niat dihatiku untuk menghisap darah kalian. Percsyalah padaku.”
“Oppa” hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku, setelah mendengar semua perkataannya. Lidahku terasa kelu dan kaku. Aku hanya bisa terus menangis dan menangis.
“Oniisan!8” aku mendengar Keiko memanggil Kazuto. Ketika aku menoleh, aku mendapati dirinya juga sedang menangis. Riasan diwajahnya luntur lantaran air matanya. Namun ia tidak memperdulikannya lagi. Aku berpikir, tidak hanya aku yang mengangis tetapi Keiko juga. Keiko sudah menganggap Kazuto seperti kakaknya sendiri. Aku merasa malu karena menangis didepan semua orang seperti ini. Tapi ketika aku ingin mengatakan sesuatu, kazuto memulai lagi.
“Jun-In’chan, aku tahu ini berat untukmu. Tapi aku ingin kau tahu sekarang dari mulutku langsung.” Kazuto berbicara seakan-akan ia tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi. Dadaku terasa sesak memikirkan jika hal itu benar-benar terjadi. “Sebetulnya, aku baru tahu sekitar satu tahun yang lalu. Itu alasan aku memintamu memanggilku oppa. Aku adalah kembaranmu.”

7.  Jun-In, maaf dalam bahasa Jepang.
8. Kakak laki-laki dalam bahasa Jepang.
 
Mo? Jun… Jun-Na… Jun-Na pa... oppa?” aku bertanya dengan terbata-bata. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku seperti tertimpa batu besar dengan berat berton-ton dan tidak ada satu orang pun yang mau membantuku. Seluruh duniaku berputar dengan amat cepat. Sehingga aku tidak tahu lagi perbedaan antara mimpi dan kenyataan. Entah aku masih terbangun atau tidak. Pernakah kau merasa sangat kenyang sehingga kau ingin mengeluarkan kembali makanan yang telah kau makan? Seperti itu lah yang aku rasakan. Aku benar-benar ingin muntah karena aku bahkan sudah tidak sanggup untuk menangis lagi. Tanpa sadar aku jatuh terduduk di lantai. Jangankan untuk berdiri, bernafas pun aku tidak sanggup lagi. Dan seketika itu juga Kazuto, oh tidak, ia Jun-Na oppa mendekat ke arahku dan mendekapku. Membiarkanku menangis dalam pelukannya dan membiarkanku membasahi jas yang ia kenakan dengan airmataku.
“Gomennasai” ucapnya sambil memelukku. Mendekatkanku ke arah jantungnya. Membiarkanku mencengkram jasnya. Lalu ia mengecup kepalaku dengan lembut. “Mianhae.9”
“Kenapa oppa? Kenapa semua ini begitu cepat terjadi? Kenapa semua ini harus terjadi di waktu yang bersamaan? Kenapa oppa?” aku bertanya pernyataan yang aku sendiri tahu pasti oppa juga tidak tahu jawabannya. Entah apa yang harus aku katakan atau aku lakukan. Apakah aku harus merasakan bahagia karena akhirnya aku menemukan saudara kembarku yang selama bertahun-tahun hilang. Atau aku harus merasa sedih karena saudara kembarku itu adalah orang yang selama ini aku sukai dan ternyata ia adalah vampir. Semua itu sungguh terlalu cepat datangnya untukku. Aku mencoba menggelengkan kepalaku. Berharap aku terbangun dan menyadari semua ini hanya mimpi dan aku terbangun dalam kondisi yang baik-baik saja. Tapi semua itu tetap berada di sana. Semua itu benar nyatanya. Dadaku terasa semakin sesak. Membuatku semakin kuat mencengkram jasnya dan terus saja menangis.
“Maaf, drama ini harus berakhir. Kau akan kami musnahkan. Jika kau mau ikut secara baik-baik dengan kami, maka kami tidak akan memaksamu. Atau kami akan langsung membunuhmu di sekolahmu tercinta ini Kazuto?” ucap salah satu seivo ketika kami mencoba berdiri kembali.
“Tidak! Aku ingin kau yang membunuhku Jun-In.” perkataanya yang mendadak itu membuatku pelepaskan pelukan eratnya. Mendorongnya menjauhi tuhuhku. Aku tidak percaya oppa tega mengatakan hal itu. Tidak puaskah kau membuatku terkena serangan jantung dalam sekejap. Tidak cukupkah kau memberikan beban yang sangat mendadak ini untukku. Dan sekarang kau ingin aku membunuhmu. Membunuh saudara kembarku sendiri. Disini, di sekolah. Aku sungguh tidak tahan lagi melihatnya berdiri di depanku. Airmata juga membasahi pipinya yang memerah, namun langsung ia hapus begitu aku menatapanya.
“Aku tidak bisa oppa. Aku tidak mau.”

9. Maafkan aku, dalam bahasa Korea.
 
“Kau harus bisa. Ini saat nya kau membuktikan kalau kau bisa melakukan sesuatu yang berguna dan berarti bagi seluruh penduduk dunia sihir. Keluarkan bilah terkutukmu itu Jun-In. ayo…” oppa terus mendesakku untuk mengeluarkan bilah terkutukku itu. Senjata yang selama ini aku miliki dan sekarang tergantung dalam bentuk kalung di leherku. Sementara aku tidak bisa melakukan apapun selain menangis, oppa mendekat kearaku lagi dan melepaskan kaitan kalungku itu. Membuat bilah terkutuk kembali ke dalam ukuran normal. Menaruhnya di telapak tanganku yang kebas. Lalu kedua tangannya terangkat kearah wajahku. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Sementara aku terus saja menggeleng. “Kau tidak ingin melihatku mati di tangan orang lain kan Jun-In?”
“Tentu saja aku tidak mau. Tapi aku tidak bisa oppa. Mianhae oppa, mianhae.” Aku hanya bisa menangis dan terus saja menggelengkan kepala. Tentu saja aku tidak mau melihatnya mati di tangan orang lain. Tapi untuk membunuhnya, aku juga tidak sanggup. Untuk menggerakan tanganku saja rasanya seperti tidak memiliki tenaga sedikit pun. “Mianhae oppa, aku tidak bisa melihatmu mati. Saranghae oppa… saranghae oppa.”
“Berhentilah menanggis, ku mohon. Aku tidak bisa terus melihatmu menangis Jun-In. karena setiap kau menangis, wajahmu akan terlihat lucu. Membuatku tidak ingin meninggalkan mu. Dan ketika melihatmu menangis, aku semakin merasa bersalah pada appa10 dan omma11 karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Karena aku tidak bisa melindungimu. Karena aku, kau menjadi sendirian dan karena aku, kau harus melakukan semua ini. Aku jadi tidak bisa meninggalkanmu dengan tenang Jang Jun-In.”
“Maka itu aku tidak mau melakukannya oppa. Karena aku juga tidak ingin berpisah lagi denganmu. Cukup selama ini aku kehilanganmu. Ku mohon Jun-Na oppa… bagaimana dengan appa dan omma? Mereka pasti juga merindukanmu.”
“Biarkan mereka tetap mengetahui kalau aku menghilang. Bilang pada mereka, kalau mereka harus terus melanjutkan hidup dan tidak boleh memikirkan aku lagi, karena aku tidak akan pernah kembali. Bilang pada mereka bahwa suatu saat kita pasti bisa berkumpul kembali di sebuah tempat yang lebih layak dari pada disini. Bilang juga kalau aku sangat menyayangi mereka dan mencintai mereka sepenuh hatiku.”
“Oppa…”

10. Ayah dalam bahasa Korea.
11. Ibu dalam bahasa Korea.
 
“Dan kau, aku juga sangat menyayangimu, semua yang ku katakan tadi benar. Aku sungguh mencintaimu Jun-In. aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Aku mohon, kau harus bisa melanjutkan hidupmu meskipun tanpa aku. Seperti yang telah kau jalani selama ini. Kau sadar, bahwa selama ini perasaan mu hanyalah perasaan cinta antar saudara kembar saja. Kau pasti bisa melupakanku, aku yakin itu. Dan aku mohon, kau harus bisa melanjutkan hidupmu seperti semula dan terus berjuang. Raihlah cita-citamu, jadilah seorang penari seperti yang selama ini kau idam-idamkan. Kau tahukan, selama ini Ryan sangat mengukaimu? Dia adalah orang yang baik. Aku yakin dia akan mencintaimu sepenuh hatinya. Cobalah untuk membuka hatimu untuknya. Tersenyumlah Jun-In, tersenyumlah. Jika kau tidak bisa tersenyum kembali, aku tidak akan tenang meninggalkanmu. Aku akan hidup menderita di dunia setelah ini. Aku mohon untuk juga hidup bahagia disini. Karena dengan begitu, kita akan sama-sama hidup tenang, bahagia dan damai. Ingatlah aku ketika kau merasa terpuruk, ingatlah kalau kau sedih disini aku juga akan ikut sedih disana. Pikirkan keadaanku juga Jun-In. Berusahalah untuk menjalani hidup seperti semula, anggap semua ini tidak pernah terjadi.”
Yang bisa ku lakukan hanya menangis. Mendengar semua perkataan yang diucapkan oppa membuatku ingin memeluknya dan tidak akan membiarkannya untuk pergi. Aku menerjang kearahnya masih dengan airmata yang terus mengalir di pipiku. Aku mencoba tersenyum untuknya, setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan. Oppa mendekapku sangat erat, membuatku teringat semua hal yang pernah kita lewati bersama. Saat dimana semuanya terasa baik-baik saja. Saat-saat ketika kami masih kanak-kanak dan oppa memainkan biolanya dengan sangat indah, sementara aku menari balet lengkap dengan baju balet ku yang berwarna putih. Appa dan omma selalu melihat penampilan kami dan ketika kami turun dari panggung buatan kami sendiri di rumah, mereka akan memeluk kami dengan sangat bahagia.
Saat itu, semua begitu indah dan menyenangkan. Mengingat semua kenangan itu membuatku larut dalam luapan emosi yang juga membuatku lengah. Tanpa sadar oppa menggerakan tangan kananku yang menggenggam bilah terkutuk dan menikan dirinya sendiri. Membuatku tersentak kaget dan ketika ku sadar, aku telah mendapatkan dirinya memudar. Bayangan dirinya yang semakin menghilang membuat jantungku ingin meloncat keluat dari tubuhku. Oppa tersenyum dan terus tersenyum sambil tetap menatapku. Lalu sedetik kemudian yang ada di depanku hanyalah butiran pasir, sisa dari dirinya yang ia tinggalkan untukku. Butiran pasir yang hanya bisa terjadi jika ada vampir yang dengan suka rela mengorbankan dirinya untuk dimusnahkan. Butiran pasir yang dimaksudkan agar orang-orang yang pernah mengenalnya dapat mengenangnya dengan cara menyimpan pasir tersebut.
Airmata terus mengalir dipipiku. Semua orang ikut larut dalam suasana berkabung. Keiko menangis dalam pelukan Alex dan aku sendiri hanya bisa terduduk dalam tangis yang urung selesai. Waktu seakan berhenti berjalan, dan langit seakan ikut merasakan kesedihan yang ku alami. Ryan datang dan mencoba memelukku dari belakang. Kubiarkan dia memeluk tubuhku, ikut merasakan getaran tubuhku yang diakibatkan karena aku menangis begitu kuat. Dewan guru yang ada hanya bisa menenangkan para murid yang ikut mengangis. Mereka, satu per satu mengucapkan rasa belasungkawanya pada ku dan memberiku semangat. Para seivo mengumpulkan butiran pasir Jun-Na oppa, menaruhnya dalam sebuah guci berukuran sedang yang sangat manis jika kau tidak tahu apa yang ada didalamnya. Setelah mereka selesai menaruhnya, kepala sekolah menutupnya dengan kain hitam dan mengikat guci tersebut dengan pita berwarna putih, lalu memberikanya padaku. Tapi Ryan yang menerimannya, lalu ia bawa guci itu keluar dari aula. Ia membawanya menuju halaman sekolah dan berhenti di depan pohon rindang, tempat kami biasanya berkumpul untuk sekedar berbincang. Ia mengubur guci tersebut menggunakan sihir dan menaruh karangan bungga di dekat bekas dari galian tanah tersebut.
“Disini, pahlawan yang sesungguhnya disemayamkan. Seseorang yang rela membiarkan dirinya musnah demi kesejahteraan seluruh dunia sihir. Kita harus memberi penghormatan yang layak untuknya. Seorang pahlawan sejati. Juga untuk kembarannya yang turut andil dalam menyelamatkan dunia sihir. Bukan hal yang patut mereka banggakan memang. Tapi setidaknya, kita dapat membantunya dengan tidak mengungkit-ungkit lagi tentang hal ini, agar ia tidah bersedih lagi.” Ryan terus berkata sambil tetap menatapku yang menangis. Memberiku kekuatan tersendiri untuk tersenyum. Aku akan mencoba membuka hati untuknya, seperti yang oppa bilang.
Satu per satu mereka meninggalkan halaman dan kembali melanjutkan malam mereka yang terganggu. Tapi nampaknya mereka kembali ke kamar masing-masing. Saat semua orang sudah tidak lagi berada di halaman sekolah, aku duduk dan menangis sambil terus memandangi rangkaian bunga yang Ryan berikan untuk oppa. Aku melepaskan bunga mawar putih dari rambutku dan meletakannya di samping karangan bunga dari Ryan. “Oppa… saranghae. Aku akan mencoba hidup normal seperti permintaanmu. Aku mohon oppa, bantulah aku. Bantulah aku untuk melewati hari-hariku setelah ini.”
* * *
Sepuluh tahun berlalu sejak kejadian itu. Selama aku masih bersekolah, tiap malam diam-diam aku masih suka menangis di kamar asrama Nawizard School. Setiap aku melewati pohon itu, aku akan terdiam beberapa saat dan menangis. Aku selalu berdoa untuk oppa dan mengenang semua kenangan indahku dengannya. Sulit buatku untuk bangkit dari kesedihanku. Namun, sedikit demi sedikit aku dapat mengendalikan diriku sendiri untuk tidak menangis lagi. Seperti perkataan oppa saat itu, aku harus berhenti menangis. Hal ini masih tetap ku rahasiakan dari orang tua ku. Seluruh sekolah membantuku untuk tidak memberitahukannya kepada mereka. Mereka bahkan tidak menyinggung lagi tentang hal itu, mereka sangat menghargai perasaanku. Memberikanku sedikit kekuatan untuk bangkit kembali, bangkit dari kesedihanku. Perkataan oppa selalu terngiang-ngiang dibenakku. Membuatku mencoba untuk tersenyum kembali. Memberiku kekuatan tersendiri untuk melanjutkan kehidupanku. Aku harus bangkit karena semua orang juga membantuku untuk bangkit dan hidup seperti dulu. Meskipun sesungguhnya aku tidak akan pernah bisa bernafas seperti dulu, karena lubang dihatiku akan terus berada disana.
“Jun-in, apakah kau sudah siap?” aku menoleh dan mendapati diriku berada didepan pohon besar itu. Tempat dimana oppa beristirahat dalam damai. Ryan berjalan dari arah aula menuju tempatku berdiri. Ia mengenakan setelanan jas semi formal berwarna coklat tua yang terkesan berkarisma. “Aku mencarimu kemana-mana dan menemukannu sedang berada disini. Tadinya aku ingin membiarkamu sebentar berada disini, tapi sepertinya kau melamun.”
“ah.. tidak. Aku hanya mengucapkan terima kasih pada oppa karena sempat hadir di hidupku dan membuat hari-hariku di sekolah menjadi penuh warna.” Ucapku sambil tersenyum kearah Ryan. “Kau sudah selesai bertemu para guru kan Ryan. Apa kau menyampaikan salamku untuk mereka?”
“Tentu saja… Ayo kita melakukan sihir berpindah tempat. Kau bilang kau ingin kerumah orang tuamu terlebih dahulu sebelum kita kembali bekerja?”
“Ne… sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu ke oppa.” kataku sekali lagi ke Ryan, lalu aku kembali menoleh kearah pohon besar di hadapanku itu. “Oppa, gomawo. Sekarang aku sudah menjadi guru tari, tapi di sebuah sekolah di dunia fana. Aku pikir, aku lebih baik tinggal disana karena aku pasti dapat dengan mudah melakukan apa yang ku mau dibandingkan jika aku tetap disini. Daah oppa. Kapan-kapan aku akan kembali kesini untuk menengokmu.”
Kemudian aku berbalik dan berjalan ke arah Ryan, mengandeng tangannya dan kembali berjalan sambil tersenyum manis kepadanya. Kami melakukan sihir berpindah tempat dari dunia sihir ke dunia fana. Kami tiba di Korea sedetik kemudian. Jalanan yang sepi membuat kami tidak diperhatikan orang lain. Aku sudah mencoba membuka hatiku untuk Ryan sejak oppa memintaku malam itu. Dan sekarang kami sudah berhubungan selama lebih dari 7 tahun. Aku sangat menyayanginya, sama atau mungkin lebih dari pada aku menyukai mu oppa.
“Jun-In, would you be my world?” ucapnya tiba-tiba sambil mengeluarkan kotak cincin. “Would you always with me?” Astaga, Ryan melamarku. Ia menyatakan hal penting itu di jalan setapak, di sebuah taman yang asri di kota Jin-an, Korea Selatan. Aku tak tahu ia sengaja atau tidak, tapi ia melamarku tepat pada saat kami sedang berada di sebuah tempat yang sangat indah. Di tengah-tengah deretan pohon bunga sakura yang menjatuhkan bunganya di musim gugur ini. Ini sangat romantis. Membuatku mengingat semua yang terjadi saat oppa bilang kalau ia juga menyukaiku. Dadaku terasa penuh, aku benar benar bahagia sekarang. Aku tersenyum kearahnya tapi aku juga mengangis, aku menangis karena aku bahagia. Sangat bahagia.
“Kenapa kau menangis?” Ryan panik dan bertanya padaku. Ia menghapus airmataku dengan lembut. Ku abaikan pertanyaannya dan aku malah menerjang kearahnya. Ku peluk ia erat-erat sekuat yang ku bisa untuk meredam rasa senangku agar aku tidak seperti orang aneh. Aku benar-benar sangat bahagia. Oppa, kau pasti lihat dari tempatmu sekarang kan? Aku bisa melanjutkan hidupku meski kau sudah tidak bersamaku. Aku bisa mengantikanmu dengan orang lain. Kurasa lubang dihatiku sudah bisa tertutup kembali.  Aku berhasil tersenyum kembali. Benar apa katamu, aku bisa melakukan itu. Gomawo oppa, gomawo. Meskipun kini aku sudah bersama Ryan, tapi kau tetaplah kembaranku. Orang yang sangat aku cintai selain dirinya. Oppa, selamanya kau akan tetap hidup di dalam hatiku. Dan tak pernah satu detik pun kau hilang dari hatiku. Darahmu terus mengalir dalam darahku. Selamanya aku mencintaimu. Oppa… saranghae.
-TAMAT-